Sabtu, 02 Juni 2012

Gelar-Gelar Kristus Dalam Yesaya 9:5-6



I) Nubuat tentang kelahiran Yesus (ay 5a).

1)   Ay 5a ini jelas merupakan nubuat tentang kelahiran Yesus.
Tetapi ada yang aneh dengan nubuat ini, yaitu dalam Kitab Suci Indonesia itu ditunjukkan dalam waktu lampau (ay 5: ‘telah lahir’ ... ‘telah diberikan’).
Tetapi Kitab Suci bahasa Inggris ada yang memberikannya dalam bentuk present tense (waktu sekarang), dan ada bahkan yang dalam future tense (waktu yang akan datang).
KJV/RSV/NIV: ‘is born ... is given’.
NASB: ‘will be born ... will be given’.
Sebetulnya yang benar justru adalah Kitab Suci Indonesia, karena dalam bahasa Ibraninya memang digunakan bentuk lampau.
E. J. Young“He speaks of the birth as though it had already occurred, even though from his standpoint it was yet to take place in the future” (= Ia berbicara tentang kelahiran itu seakan-akan itu telah terjadi, sekalipun dari sudut pandangnya itu masih akan terjadi di masa yang akan datang) - hal 329.
Mengapa dalam bentuk lampau? Ada 2 kemungkinan jawaban:
a)   Sekalipun ini adalah nubuat, tetapi digunakan bentuk lampau, seakan-akan hal itu sudah terjadi, untuk menunjukkan kepastian terjadinya nubuat itu.
b)   Barnes’ Notes“Not that he was born when the prophet spake. But in prophetic vision, as the events of the future passed before his mind, he saw that promised son, and the eye was fixed intently on him” (= Bukan bahwa ia telah dilahirkan pada waktu sang nabi berbicara. Tetapi dalam penglihatan yang bersifat nubuat, pada waktu peristiwa-peristiwa dari masa yang akan datang lewat di depan pikirannya, ia melihat anak yang dijanjikan itu, dan matanya diarahkan dengan sungguh-sungguh kepadanya) - hal 191.
Jadi, Yesaya menuliskannya dalam bentuk lampau, karena ia sudah melihat Anak itu dalam penglihatan yang diberikan kepadanya. 
2)   ‘seorang putera telah diberikan untuk kita’ (ay 5).
Menyoroti kata ‘telah diberikan‘ ini Barnes’ Notes memberi komentar sebagai berikut:
“The Messiah was pre-eminently the gift of the God of love. Man had no claim on him, and God voluntarily gave his Son to be a sacrifice for the sins of the world” (= Mesias merupakan pemberian dari Allah yang adalah kasih. Manusia tidak mempunyai hak atasNya, dan Allah dengan sukarela memberikan AnakNya untuk menjadi korban untuk dosa-dosa dunia) - hal 191.
Bdk. Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal”.

II) Nama Kristus.

Ay 5b: ‘namanya disebutkan orang’. Ini tak berarti bahwa Kristus betul-betul dipanggil dengan nama ini. Artinya: Kristus layak mendapatkan sebutan-sebutan / nama-nama ini karena ini memang menunjukkan diri dan karak-terNya.
Sekarang mari kita membahas nama-nama dalam ay 5b ini.
1)   ‘Penasihat Ajaib’.
Ada 2 macam terjemahan.
RSV/NIV/NASB: ‘Wonderful Counsellor’ (= Penasihat Ajaib).
KJV: ‘Wonderful, Counsellor’ (= Ajaib, Penasihat).
a)   Ada yang menyatukan kedua istilah ini menjadi satu nama (seperti KS Indonesia, RSV, NIV, NASB)
Yang menyatukan kedua istilah ini menganggap bahwa nama ini sesuai dengan Yes 28:29 (NIV): ‘wonderful in counsel’ / ‘ajaib dalam nasehat’ (KS Indonesia menterjemahkan ‘ajaib dalam keputusan’). Dalam Yes 28:29 itu hal itu ditujukan kepada YAHWEH. Dengan demikian pada waktu dalam ay 5b ini nama ini diberikan kepada Kristus, ini menunjukkan keilahian Kristus.
b)   Tetapi ada yang memisahkan kedua istilah ini menjadi 2 nama (seperti KJV).
Kebanyakan buku-buku tafsiran yang saya pakai menganggap bahwa 2 istilah ini harus dipisah. J. A. Alexander menyatakan bahwa kata ‘wonderful’ / ‘ajaib’ (kata sifat) secara hurufiah terjemahannya adalah‘wonder’ / ‘keajaiban’ (kata benda), dan karenanya memang lebih cocok kalau diterjemahkan sebagai 2 nama.
·        ajaib / keajaiban.
Charles Haddon Spurgeon“Beloved, there are a thousand things in this world, that are called by names that do not belong to them, but in entering upon my text, I must announce at the very opening, that Christ is called Wonderful, because he is so. God the Father never gave his Son a name which he did not deserve” (= Saudara yang kekasih, ada 100 hal di dunia ini, yang disebut dengan nama yang tidak semestinya, tetapi pada waktu memasuki text saya, saya harus mengumumkan pada pembukaannya, bahwa Kristus disebut Ajaib, karena Ia memang begitu. Allah Bapa tidak pernah memberi AnakNya nama yang tidak layak Ia dapatkan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 108.
Mesias memang ajaib dalam keberadaanNya sebagai Allah dan manusia dalam 1 pribadi, dalam ajaranNya yang mengherankan banyak orang (bdk. Mat 7:28), dalam tindakanNya, dalam kelahiranNya dari perawan, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga, dll.
Juga kasih karunia Allah yang menebus dosa kita dan menyelamatkan kita melalui kedatangan dan penebusan Kristus, lebih ajaib dari mujijat apapun.
Ada yang membandingkan nama ini dengan Hak 13:18 dimana Malaikat TUHAN menjawab Manoah (ayah Simson) yang menanyakan namaNya dengan jawaban: ‘Mengapa engkau juga menanyakan namaKu? Bukankah nama itu ajaib?’. Jawaban ini jelas menunjukkan keilahian dari Malaikat TUHAN itu. Jadi dalam Yes 9:5 ini nama itu juga menunjukkan keilahian Kristus.
·        ‘Counsellor’ (= Penasihat).
Bdk. Yes 11:2 yang menubuatkan bahwa pada Kristus ada ‘roh hikmat’. Kristus memang memberi kita hikmat sehingga kita menjadi bijaksana (bdk. Amsal 8:12-30 1Kor 1:24,30). Ia menasehati kita dari dalam melalui Roh Kudus, dan Ia juga menasehati kita dari luar melalui hamba-hambaNya / para pemberita Firman Tuhan.
Tentang nama ‘Counsellor’ (= Penasihat) ini Charles Haddon Spurgeon memberikan komentar sebagai berikut:
“It was by a Counsellor that this world was ruined. Did not Satan mask himself in the serpent, and counsel the woman with exceeding craftiness, that she should take unto herself of the fruit of the tree of knowledge of good and evil, in the hope that thereby she should be as God? Was it not that evil counsel which provoked our mother to rebel against her Maker, and did it not as the effect of sin, bring death into this world with all its train of woe? Ah! beloved, it was meet that the world should have a Counsellor to restore it, if it had a Counsellor to destroy it. It was by counsel that it fell, and certainly, without counsel it never could have arisen. But mark the difficulties that surrounded such a Counsellor. ‘Tis easy to counsel mischief; but how hard to counsel wisely! To cast down is easy, but to build up how hard!” (= Adalah karena seorang penasihat dunia ini dihancurkan / dirusakkan. Bukankah Setan menyembunyikan dirinya dalam ular, dan menasehati si perempuan dengan kelicikan yang hebat, sehingga ia mengambil bagi dirinya buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, dengan harapan bahwa dengan itu ia akan menjadi seperti Allah? Bukankah nasehat jahat itu yang menyebabkan ibu kita memberontak terhadap Penciptanya, dan tidakkah itu sebagai akibat dosa membawa kematian ke dalam dunia ini dengan semua rentetan kesengsaraan / kutuk? Ah, saudara yang kekasih, adalah cocok bahwa dunia ini mempunyai seorang Penasihat untuk memulihkan-nya, jika dunia ini mempunyai seorang Penasihat untuk menghancur-kannya. Adalah karena suatu nasehat dunia ini jatuh, dan pastilah tanpa nasehat dunia ini tak bisa dibangkitkan. Tetapi perhatikan kesukaran yang meliputi Penasihat itu. Adalah mudah untuk memberi nasehat yang jahat; tetapi alangkah sukarnya memberikan nasehat yang bijaksana! Menghancurkan itu mudah, tetapi alangkah sukarnya membangun) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 115.
2)   ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR).
Dalam Yes 10:21 istilah yang persis sama (EL GIBOR) digunakan untuk Allah. Jadi bahwa di sini istilah / nama ini diberikan kepada Kristus, menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.
E. J. Young“Whereas the word ELOHIM in the Old Testament may some-times apply to beings lesser than God, such is not the case with EL. This desig-nation is reserved for the true God and for Him alone” (= Kalau kata ELOHIM dalam Perjanjian Lama kadang-kadang bisa digunakan terhadap makhluk yang lebih rendah dari Allah, tidak demikian halnya dengan EL. Nama ini disediakan untuk Allah yang benar dan hanya untuk Dia saja).
Pulpit Commentary: “What the Messiah was to do, could be done by none less than God. He was to redeem mankind; he was to vanquish death and sin; he was to triumph over Satan; he was to be a meritorious Sacrifice. ‘God with us’ had already been declared to be one of his names (ch 7:14). Now he is announced as ‘God the Mighty One’” [= Apa yang harus dilakukan oleh Mesias, tidak bisa dilakukan oleh siapapun yang lebih rendah dari Allah. Ia harus menebus umat manusia; Ia harus mengalahkan kematian dan dosa; Ia harus menang atas Setan; Ia harus menjadi Korban yang bermanfaat. ‘Allah bersama / dengan kita’ telah dinyatakan sebagai salah satu dari nama-namaNya (pasal 7:14). Sekarang Ia diumumkan sebagai ‘Allah yang perkasa’] - hal 170.
3)   ‘Bapa yang kekal’.
KJV/RSV/NIV: ‘everlasting Father’ (= Bapa yang kekal).
NASB: ‘eternal Father’ (= Bapa yang kekal).
a)   Sebutan ‘Bapa’ bagi Kristus ini membingungkan, sehingga menimbulkan ajaran sesat.
Pulpit Commentary: “He is the Son, and yet it can be said of him that he is the ‘Everlasting Father.’ This last assertion seems to be the most astonishing of them all. ‘The Son is the Father.’”(= Ia adalah Anak, tetapi bisa dikatakan tentang Dia bahwa Ia adalah ‘Bapa yang kekal’. Pernyataan terakhir ini kelihatannya merupakan yang paling mengherankan dari semua. ‘Anak adalah Bapa’) - hal 181.
Tafsiran ini jelas berbau ajaran Sabelianisme, yang merupakan ajaran sesat tentang Allah Tritunggal, karena ajaran ini mempercayai bahwa Allah Tritunggal bukan terdiri dari 3 pribadi tetapi 3 perwujudan. Jadi mereka beranggapan bahwa yang berinkarnasi menjadfi manusia adalah Allah Bapa sendiri!
b)   Dalam hubunganNya dengan pribadi-pribadi lain dalam Tritunggal, Kristus jelas tidak bisa disebut ‘Bapa’.
Charles Haddon Spurgeon“the Messiah is not here called ‘Father,’ by way of any confusion with him who is pre-eminently called ‘THE FATHER.’ Our Lord’s proper name, so far as Godhead is concerned, is not the Father, but the Son. Let us beware of confusion. The Son is not the Father, neither is the Father the Son; and though they be one God, essentially and eternally, being for evermore one and indivisible, yet still the distinction of persons is to be carefully believed and observed” (= Mesias di sini tidak disebut ‘Bapa’ untuk mengacaukan dengan Dia yang disebut ‘Bapa’. Nama yang benar dari Tuhan kita, berkenaan dengan keilahian, bukanlah Bapa, tetapi Anak. Biarlah kita berhati-hati terhadap kekacauan. Anak bukanlah Bapa, dan Bapa bukanlah Anak; dan sekalipun mereka adalah satu Allah, secara hakiki dan kekal, karena selama-lamanya adalah satu dan tak terbagi-bagi, tetapi perbedaan pribadi harus tetap dipercaya dan diperhatikan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 132.
Barnes’ Notes“The term ‘Father’ is not applied to the Messiah here with any reference to the distinction in the Divine nature; for that word is uniformly, in the Scriptures, applied to the first, not to the second person of the Trinity” (= Istilah ‘Bapa’ di sini tidak diterapkan kepada Mesias berhubungan dengan perbedaan dalam hakekat ilahi; karena dalam Kitab Suci kata itu secara seragam diterapkan kepada pribadi pertama, bukan kepada pribadi kedua dari Tritunggal) - hal 193.
c)   Dalam hubunganNya dengan orang percaya, bisakah Kristus disebut Bapa?
E. J. Young menafsirkan bahwa nama ini berarti bahwa Kristus itu adalah Bapa secara kekal. Dan Ia bertindak seperti seorang Bapa.
Tetapi bukankah Kitab Suci tidak pernah menyebut Kristus sebagai ‘Bapa’? Ia disebut ‘saudara kita’ (Ro 8:29 Mat 12:50 Mat 25:40 Ibr 2:11-12 bdk. Yoh 20:17).
Tetapi dalam Mat 9:2,22 Wah 21:7 Yesus menyebut ‘anakKu’ (tetapi, Wah 21:7 ini tentang Allah Bapa atau tentang Kristus?).
Saya sendiri tetap mempunyai kecondongan bahwa dalam hubunganNya dengan orang percayapun Kristus tidak cocok disebut ‘Bapa’.
d)   Apa arti istilah ‘Bapa yang kekal’ ini?
Barnes’ Notes“Literally, it is the Father of eternity” (= Secara hurufiah, ini adalah Bapa dari kekekalan) - hal 193.
·        Kata ‘Bapa’ oleh Pulpit Commentary diartikan ‘Protector’ (= pelindung), seperti dalam Ayub 29:16 Ayub disebut sebagai ‘bapa bagi orang miskin’, dan dalam Yes 22:21 Elyakim disebut sebagai ‘bapa bagi penduduk Yerusalem’. Juga bisa ditambahkan arti ‘Creator’ (= Pencipta) dan ‘Preserver’ (= Pemelihara).
·        Calvin mengartikan istilah ini sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, dimana ‘Bapa’ diartikan ‘author / pencipta atau sumber’.
·        Istilah ‘Bapa’ di sini harus diartikan sesuai dengan kebiasaan orang di sana pada jaman itu
Charles Haddon Spurgeon“It is the manner of the Easterns to call a man the father of a quality for which he is remarkable. To this day, among the Arabs, a wise man is called ‘the father of wisdom;’ a very foolish man ‘the father of folly.’ The predominant quality in the man is ascribed to him as though it were his child, and he the father of it. Now, the Messiah is here called in the Hebrew ‘the father of eternity,’ by which is meant that he is pre-eminently the possessor of eternity as an attribute. Just as the idiom, ‘the father of wisdom,’ implies that a man is pre-eminently wise, so the term, ‘Father of eternity,’ implies that Jesus is pre-eminently eternal; that to him, beyond and above all others, eternity may be ascribed. ... not only is eternity ascribed to Christ, but he is here declared to be parent of it. Imagination cannot grasp this, for eternity is a thing beyond us; yet if eternity should seem to be a thing which can have no parent, be it remembered that Jesus is so surely and essentially eternal, that he is here pictured as the source and Father of eternity. Jesus is not the child of eternity, but the Father of it. Eternity did not bring him forth from its mighty bowels, but he brought forth eternity” (= Merupakan kebiasaan orang Timur untuk menyebut seseorang sebagai bapa dari kwalitet yang luar biasa / lain dari yang lain dalam dirinya. Sampai saat ini, di antara orang Arab, seorang yang bijaksana disebut ‘bapa dari hikmat’; seorang yang sangat bodoh disebut ‘bapa dari kebodohan’. Kwalitet yang utama / menonjol dalam seseorang dianggap berasal dari dia seakan-akan itu adalah anaknya, dan ia adalah bapa dari kwalitet itu. Sekarang, Mesias di sini disebut dalam bahasa Ibrani ‘bapa dari kekekalan’ dengan mana dimaksudkan bahwa ia adalah pemilik dari kekekalan sebagai suatu sifat. Sama seperti ungkapan ‘bapa dari hikmat’ menunjukkan bahwa orang itu bijaksana, demikian pula istilah ‘Bapa dari kekekalan’ menunjukkan bahwa Yesus itu kekal; sehingga di atas semua yang lain, kekekalan dianggap berasal dari dia. ... bukan hanya kekekalan dianggap berasal dari Kristus, tetapi di sini ia dinyatakan sebagai orang tua dari kekekalan. Imaginasi tidak dapat mengertinya, karena kekekalan merupakan sesuatu yang melampaui kita; tetapi jika kekekalan kelihatannya adalah hal yang tidak bisa mempunyai orang tua, haruslah diingat bahwa Yesus begitu kekal secara pasti dan hakiki, sehingga di sini ia digambarkan sebagai sumber dan Bapa dari kekekalan. Yesus bukanlah anak dari kekekalan, tetapi Bapa dari kekekalan. Kekekalan tidak melahir-kannya, tetapi ia melahirkan kekekalan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 134-135.
Barnes’ Notes“it may be used in accordance with a custom in Hebrew and in Arabic, where he who possess a thing is called the father of it. Thus ‘the father of strength’ means strong; ‘the father of knowledge’, intelligent; ‘the father of glory’, glorious; ‘the father of goodness’, good; ‘the father of peace’, peaceful. According to this, the meaning of the phrase, ‘the Father of eternity’ is properly eternal” (= ini mungkin dipakai sesuai dengan kebiasaan dalam bahasa Ibrani dan Arab, dimana ia yang memiliki sesuatu disebut bapa dari sesuatu itu. Jadi, ‘bapa dari kekuatan’ berarti kuat; ‘bapa dari pengetahuan’ berarti pandai; ‘bapa dari kemuliaan’ berarti mulia; ‘bapa dari kebaikan’ berarti baik; ‘bapa dari damai’ berarti cinta damai. Menurut ini, arti dari ungkapan ‘Bapa dari kekekalan’ adalah kekal) - hal 193.
Barnes’ Notes“He is not merely represented as everlasting, but he is introduced, by a strong figure, as even ‘the Father of eternity’, as if even everlasting duration owed itself to his paternity” (= Ia tidak semata-mata digambarkan sebagai kekal, tetapi ia diperkenalkan dengan suatu penggambaran yang kuat bahkan sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, seakan-akan bahkan kekekalan berhutang dirinya sendiri kepada kebapaannya) - hal 193.
Apakah istilah ini hanya menunjukkan kekekalan Kristus, atau bahkan menunjukkan bahwa Kristus adalah pencipta, sumber, dan pemelihara dari kekekalan, itu tetap menunjukkan keilahian Kristus.
4)   ‘Raja Damai’ [prince of peace (= pangeran damai)].
a)   ‘Raja’ atau ‘Pangeran’?
Istilah yang benar memang adalah ‘Pangeran Damai’, tetapi saya berpendapat bahwa istilah ‘prince’ (= pangeran), digunakan karena Yesus adalah Anak Allah. Dengan memberi gelar ‘Pangeran’ kepada Yesus, maka secara implicit Allah Bapa digambarkan sebagai Raja. Tetapi saya berpendapat tidak terlalu jadi soal kalau kita mau menyebut Yesus sebagai ‘Raja Damai’, karena:
·        kita tahu dari Yoh 5:18 dan Yoh 10:30-33 bahwa istilah ‘Anak Allah’ sebetulnya menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.

·        ay 5b menunjukkan Yesus sebagai Raja.
Ay 5b: ‘dan lambang pemerintahan ada di atas bahunya’.
NIV: ‘and the government will be on his shoulders’ (= dan pemerintahan akan ada di atas bahunya).
Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Raja atau Kristus memegang pemerintahan.

·        ay 6 juga menunjukkan Yesus sebagai Raja, bahkan sebagai Raja Damai.

Ay 6: ‘tahta Daud’.

Daud diberi janji bahwa kerajaannya akan kekal (2Sam 7:12-dst), dan ini digenapi dalam diri Kristus [bdk. Amos 9:11 - pondok Daud yang roboh dibangunkan kembali oleh Allah (dalam diri Kristus)].
J. A. Alexander: “the Messiah is not only called the Branch or Son of David (2Sam 7:12,13 Jer 23:5 33:15), but David himself (Jer 30:9 Ezek 34:23,24 37:24 Hos 3:5). The two reigns are identified, not merely on account of an external resemblance or a typical relation, but because the one was really a restoration or continuation of the other. ... The Jewish nation, as a spiritual body, is really continued in the Christian church” [= Mesias bukan hanya disebut sebagai Tunas atau Anak Daud (2Sam 7:12,13 Yer 23:5 33:15), tetapi juga disebut Daud sendiri (Yer 30:9 Yeh 34:23,24 37:24 Hos 3:5). Kedua pemerintahan ini disamakan, bukan semata-mata karena kemiripan lahiriah atau hubungan yang khas, tetapi karena yang satu betul-betul merupakan pemulihan atau kelanjutan dari yang lain. ... Bangsa Yahudi, sebagai suatu tubuh rohani, betul-betul dilanjutkan dalam Gereja Kristen] - hal 135.
Penerapan:
Apakah Yesus adalah Raja dalam hidup saudara? Menjadikan Yesus sebagai Raja atau sebagai Tuhan dalam hidup kita, tidaklah terlalu berbeda. Jadi hal ini bisa dibandingkan dengan Luk 2:11 - “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Pemberitaan Injil oleh malaikat pada Natal yang pertama ini menggabungkan 2 gelar bagi Yesus, yaitu ‘Juruselamat’ dan ‘Tuhan’. Orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat, juga harus menerimaNya sebagai Tuhan. Orang yang menolak Dia sebagai Tuhan, sebetulnya juga tidak pernah menerimaNya sebagai Juruselamat.
b)   Raja / Pangeran Damai.
Yesus disebut Raja / Pangeran Damai karena:
·        Ia mendamaikan manusia (yang mau percaya kepadaNya) dengan Allah (Ro 5:1 Ef 2:16-18 2Kor 5:18-21).
Siapapun saudara dan bagaimanapun jahatnya saudara, kalau saudara mau percaya kepada Yesus, maka saudara akan diperdamaikan dengan Allah. Sebaliknya, betapapun baiknya / salehnya saudara, saudara tetap mempunyai dosa yang menjadikan saudara musuh Allah. Jadi saudarapun harus percaya kepada Yesus supaya bisa diperdamaikan dengan Allah.
·        Ia memberikan damai dalam hati orang yang percaya kepadaNya (Yoh 14:27 Mat 11:28-30).
E. J. Young“True peace comes to us because a Child was born. That Child, and He alone, is the Prince of Peace. Would we have peace, it is to Him that we must go” (= Damai yang sejati datang kepada kita karena seorang Anak dilahirkan. Anak itu, dan hanya Dia saja, adalah Pangeran Damai. Jika kita menginginkan damai, kepada Dialah kita harus pergi) - hal 340.
·        Ia mendamaikan orang dengan orang (Ef 2:14). Ini terwujud dalam persekutuan orang Kristen.
·        E. J. Young“This One is a Prince, and He seeks the greatness of His kingdom and of Himself not in war, as do ordinary rulers, but in peace” (= Orang ini adalah seorang Pangeran, dan Ia mengusahakan kebesaran KerajaanNya dan DiriNya sendiri bukan dalam perang, seperti yang dilakukan penguasa-penguasa biasa, tetapi dalam damai) - hal 339.
E. J. Young“Peace and the government are mentioned together. This is striking, for most governments find their increase through war. Unlike other kingdoms, this one will grow through the means of peace, through the gracious working of the Spirit of God in the hearts of men and through the preaching of the gospel” (= Damai dan pemerintahan disebutkan bersama-sama. Ini menyolok, karena kebanyakan pemerintahan mendapatkan perluasan melalui perang. Tidak seperti kerajaan-kerajaan yang lain, yang ini akan bertumbuh melalui jalan damai, melalui pekerjaan kasih karunia dari Roh Allah dalam hati manusia dan melalui pemberitaan injil) - hal 343. Bdk. Mat 20:24-28 Mat 26:47-56 Luk 9:51-56 1Pet 2:23.
Penerapan:
Kalau saudara mau Kerajaan ini bertumbuh, banyaklah memberitakan Injil.
c)   PemerintahanNya berbeda dengan pemerintahan seorang tiran / diktator.
Ini terlihat dari kata-kata ‘dengan keadilan dan kebenaran’ dalam ay 6b.
d)   Kerajaan dari Raja Damai ini kekal, dan ini ditunjukkan oleh kata-kata ‘tidak akan berkesudahan’ dalam ay 6a, dan kata-kata ‘dari sekarang sampai selama-lamanya’ dalam ay 6c (bdk. Dan 2:44a Dan 7:27 Luk 1:32-33).
Bahwa Kerajaan ini kekal, jelas menunjukkan bahwa ini tidak menunjuk pada kerajaan yang berlangsung selama 1000 tahun (hurufiah) seperti yang dipercaya oleh sebagian orang kristen.
E. J. Young“That interpretation which would apply this prophecy to a literal throne of David to be established in Jerusalem during a ‘millennium’ must be rejected for the following reasons: The reign begins with the birth of the YELED, who sits upon the throne of David and reigns eternally. To limit this reign to a period of one thousand years is to neglect the words, ‘there is no end.’ And to make the beginning coincide with the beginning of a millennium is to ignore the fact that it begins with the birth of the Child” (= Penafsiran yang menerapkan nubuat ini kepada tahta hurufiah dari Daud yang akan ditegakkan di Yerusalem pada kerajaan 1000 tahun harus ditolak karena alasan sebagai berikut: Pemerintahan itu dimulai dengan kelahiran dari sang YELED, yang duduk di atas tahta Daud dan memerintah secara kekal. Membatasi pemerintahan ini pada masa 1000 tahun berarti mengabaikan kata-kata ‘tidak akan berkesudahan’. Dan membuat permulaannya bertepatan dengan permulaan dari kerajaan 1000 tahun berarti mengabaikan fakta bahwa kerajaan itu dimulai dengan kelahiran dari sang Anak) - hal 343.
Catatan: YELED adalah kata Ibrani yang artinya ‘a boy’ (= anak laki-laki).
e)   KerajaanNya ini bertumbuh terus.
Sebetulnya hal ini bisa terlihat dari ay 6a. Tetapi ay 6a versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, sehingga tidak menunjukkan hal itu.

Ay 6a: ‘Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan’.
NIV: ‘of the increase of his government and peace there will be no end’ (= tentang pertumbuhan dari pemerintahannya dan damai tidak akan berkesudahan).
NASB: ‘there will be no end to the increase of His government or of peace’ (= tidak akan ada kesudahan bagi pertumbuhan dari pemerintahaNya atau dari damai).
Adam Clarke: “his government increases, and is daily more and more extended, and will continue till all things are put under his feet” (= pemerintahanNya bertumbuh, dan makin hari makin meluas, dan akan berlanjut sampai segala sesuatu diletakkan di bawah kakiNya) - hal 65.
Bdk. 1Kor 15:25 - “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuhNya di bawah kakiNya”.

Pulpit Commentary: “It must be progressive, because it has vitality, which necessarily involves increase and growth; it must be aggressive, because there is a war-spirit in all righteousness; it cannot abide quietly beside evil, or rest until all evil is conquered and won” (= Itu harus progresif / maju, karena itu mempunyai vitalitas / kekuatan yang hidup, yang pasti menyangkut pertambahan dan pertumbuhan; itu harus agresif, karena di situ ada roh perang dalam semua kebenaran; itu tidak bisa tinggal dengan tenang disamping kejahatan, atau beristirahat sampai semua kejahatan dikalahkan) 

Kamis, 31 Mei 2012

SALIB HINA MENJADI MULIA BAGI ORANG PERCAYA KEPADA YESUS


Yesus Disalibkan Bersama Dengan 2 Orang Penyamun

 Mat 27:38 - “Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiriNya”.
Mark 15:27-28 - “(27) Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kananNya dan seorang di sebelah kiriNya. (28) [Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: ‘Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.’]”.
Luk 23:32-33 - “(32) Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. (33) Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya”.
Yoh 19:17-18 - “(17) Sambil memikul salibNya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. (18) Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah”.

I) Yesus dihukum mati melalui penyaliban. 
1)  Pemikulan salib. 
a)  Dalam Matius, Markus, dan Lukas, diceritakan adanya Simon dari Kirene yang membantu memikul salib Yesus pada saat Yesus sudah tidak kuat lagi memikul salibNya. Dalam Yohanes hal ini tidak diceritakan. Ini bukan kontradiksi; Yohanes tidak wajib menceritakan semua detail.

b)       Mengambil jalan sejauh mungkin.
Matthew Henry: “To add to his misery, they obliged him as long as he was able, to carry his cross (v. 17), according to the custom among the Romans” [= Untuk menambah penderitaanNya, mereka mengharuskanNya sejauh yang Ia mampu, untuk memikul salibNya (ay 17), sesuai dengan kebiasaan di antara orang-orang Romawi].

c)       Ini merupakan penderitaan yang hebat.
Matthew Henry: “As a part of his sufferings; he endured the cross literally. It was a long and thick piece of timber that was necessary for such a use, and some think it was neither seasoned nor hewn. The blessed body of the Lord Jesus was tender, and unaccustomed to such burdens; it had now lately been harassed and tired out; his shoulders were sore with the stripes they had given him; every jog of the cross would renew his smart, and be apt to strike the thorns he was crowned with into his head; yet all this he patiently underwent, and it was but the beginning of sorrows” (= Sebagai bagian dari penderitaanNya; Ia menahan salib secara hurufiah. Itu merupakan kayu / pohon yang panjang dan tebal yang perlu untuk penggunaan seperti itu, dan sebagian orang beranggapan bahwa kayu / pohon itu tidak dihaluskan atau dibentuk. Tubuh Tuhan Yesus yang terpuji itu lembut, dan tidak terbiasa pada beban seperti itu; tubuh itu saat itu telah disiksa dan diletihkan; pundakNya luka-luka dengan bilur-bilur yang mereka berikan kepadaNya; setiap sentakan dari salib itu memperbaharui rasa sakitNya, dan mungkin / condong untuk memukul duri-duri dengan mana Ia dimahkotai pada kepalaNya; tetapi semua ini Ia alami dengan sabar, dan itu baru merupakan permulaan kesedihan / penderitaanNya).

d)       Ini merupakan teladan bagi kita, karena kita juga harus ‘memikul salib’.
Matthew Henry: “Our Master hereby taught all his disciples to take up their cross, and follow him. Whatever cross he calls us out to bear at any time, we must remember that he bore the cross first” (= Tuan / Guru kita dengan ini mengajar semua muridNya untuk memikul salib mereka, dan mengikuti Dia. Apapun salib yang Ia panggil kita untuk memikulnya pada saat manapun, kita harus ingat bahwa Ia memikul salib lebih dulu).

Mat 16:24 - “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.
 2)  Yesus digiring / dibawa ke tempat penyaliban.
 a)  Yesus digiring dan disalibkan tanpa perlawanan, dan ini menggenapi nubuat Kitab Suci tentang hal itu.
Matthew Henry mengatakan bahwa penggiringanNya ke tempat penyaliban tidak menunjukkan bahwa Ia melakukan perlawanan apapun, dan dengan demikian Kitab Suci digenapi.
Yes 53:7 - “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”.

b)  Kitalah yang seharusnya digiring ke tempat eksekusi, tetapi Ia digiring bagi kita supaya kita lolos dari hal itu.
Matthew Henry: “We deserved to have been led forth with the workers of iniquity as criminals to execution, .... But he was led forth for us, that we might escape” (= Kita layak untuk digiring dengan pembuat-pembuat kejahatan sebagai kriminil-kriminil ke tempat eksekusi, ... Tetapi Ia digiring bagi kita, supaya kita bisa lolos).

3)  Penyaliban Yesus merupakan hal terpenting dalam sejarah.
 Manford George Gutzke: “The death of Jesus of Nazareth on Calvary’s cross considered with His resurrection is undoubtedly the most significant event that ever occurred in the history of man” (= Kematian Yesus dari Nazaret pada salib Kalvari dipertimbangkan dengan kebangkitanNya, tak diragukan lagi merupakan peristiwa yang paling penting / berarti yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia) - ‘Plain Talk on Matthew’, hal 231.

Salib / kematian Kristus dan kebangkitanNya jelas juga merupakan berita terpenting dalam Kitab Suci.
Bdk. 1Kor 15:3-4 - “(3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.
Karena itu, kalau ada gereja / pendeta / orang Kristen yang tak pernah / jarang memberitakan hal-hal ini, itu merupakan suatu kegilaan dan kesesatan!

4)  Penyaliban yang mengerikan menjadi berkat bagi kita yang percaya.

Barnes’ Notes (tentang Mat 27:35): “This punishment was deemed the most disgraceful and ignominious that was practiced among the Romans. It was the way in which slaves, robbers, and the most notorious and abandoned wretches were commonly put to death. ... it was the most ignominious punishment known, so it was the most painful” (= Hukuman ini dianggap yang paling memalukan dan tercela yang dipraktekkan di antara orang-orang Romawi. Ini biasanya merupakan cara dalam mana budak-budak, perampok-perampok, dan orang-orang yang terkenal dengan nama yang paling buruk, dan orang-orang buruk yang ditinggalkan, dibunuh. ... itu merupakan hukuman yang paling tercela / memalukan yang dikenal, dan itu juga merupakan hukuman yang paling menyakitkan).

Manford George Gutzke: “The scene in Matthew 27 is not beautiful from a human point of view. ... But this picture has brought peace to countless hearts and minds. In the presence of this picture, men’s lives have been changed, people have been set free from sin, homes have been reunited, friendship have been restored. ‘The Old Rugged Cross, so despised by the world, has a wondrous attraction for me.’” (= Pemandangan dalam Matius 27 tidaklah indah dari sudut pandang manusia. ... Tetapi gambaran ini telah membawa damai kepada hati dan jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Di hadapan gambaran ini, kehidupan orang-orang telah diubahkan, orang-orang telah dibebaskan dari dosa, rumah-rumah tangga dipersatukan kembali, persahabatan telah dipulihkan. ‘Salib Tua yang Kasar, begitu dihina oleh dunia, mempunyai daya tarik yang luar biasa bagiku’) - ‘Plain Talk on Matthew’, hal 232.

II) Mengapa Yesus harus disalibkan ?
 1)  Manusia tidak bisa diselamatkan melalui perbuatan baik, atau dengan cara lain apapun juga, selain melalui penebusan Kristus. Jadi, dengan Yesus mati disalib untuk menebus dosa / memikul hukuman dosa umat manusia, maka Ia menjadi jalan satu-satunya melalui mana manusia bisa diselamatkan.
 Johann Hieronymus Schroeder: “It has been the cross which has revealed to good men that their goodness has not been good enough” (= Saliblah yang telah menyatakan kepada orang-orang yang baik bahwa kebaikan mereka tidak cukup baik) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 145.
 Gal 2:16,21 - “(16) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. ... (21) Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.
 Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.

1Pet 2:24 - “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh”.
2)  Salib adalah hukuman / kematian yang terkutuk.
 a)  Salib bukan hanya merupakan hukuman mati yang menyakitkan dan mengerikan, tetapi juga hukuman yang terkutuk.
Ul 21:22-23 - “(22) ‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, (23) maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.’”.
Sebetulnya, dalam Perjanjian Lama tidak dikenal hukuman salib, sehingga Ul 21:23 sebetulnya tidak menunjuk pada penyaliban, tetapi menunjuk pada orang yang dihukum mati pada sebuah tiang (digantung), atau orang yang setelah dihukum mati lalu mayatnya digantungkan pada sebuah tiang (bdk. Yos 8:29  Yos 10:26-27).

Tetapi Ul 21:23 ini, yang menyatakan bahwa ‘orang yang digantung terkutuk oleh Allah’, tentu juga berlaku terhadap orang yang disalib. Ini terbukti dari:
1.  Permintaan orang-orang Yahudi untuk menurunkan mayat Yesus dan kedua penjahat sebelum hari gelap.
Yoh 19:31 - “Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib - sebab Sabat itu adalah hari yang besar - maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan”.
Permintaan ini pasti didasarkan pada Ul 21:23a - “maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga”.

2.  Kata-kata Paulus dalam Gal 3:13, yang mengutip Ul 21:23 ini dan menerapkannya kepada penyaliban Kristus.
Gal 3:13 - “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.
Catatan:  Kitab Suci Indonesia menggunakan kata ‘kayu salib’ dalam Gal 3:13b tetapi menggunakan kata ‘tiang’ dalam Ul 21:22-23. Tetapi dalam KJV/RSV/NIV/ NASB/NKJV, baik dalam Gal 3:13b maupun dalam Ul 21:22-23, kedua kata itu diterjemahkan sama, yaitu ‘tree’ (= pohon / tiang / salib).

b)   Mengapa Yesus harus mengalami kematian yang terkutuk?
1.  Karena kita sebagai orang berdosa terkutuk di hadapan Allah.
Gal 3:10 - “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’”.
Bdk. Ul 27:26 - “Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!’”.
2.  Karena Yesus mau menggantikan kita memikul kutuk tersebut.
Pada waktu Kristus mati di atas kayu salib, Ia telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Pada saat itu, Dia yang tidak berdosa (dan karenanya tidak layak menerima kutuk!), telah menjadi kutuk karena kita (Gal 3:13a). Paulus bisa berkata bahwa Kristus telah menjadi kutuk, berdasarkan Ul 21:23 yang ia kutip dalam Gal 3:13b.
Karena itu, kematian Kristus tidak bisa terjadi dengan cara pemenggalan, perajaman dsb, tetapi harus melalui cara yang terkutuk, yaitu penyaliban! Kalau Ia mati melalui cara-cara lain, maka Ia tidak bisa memikul kutuk yang ada pada kita!
Memang hukuman gantung sebetulnya juga terkutuk, tetapi Kristus tidak boleh mati melalui hukuman gantung karena kalau Ia mati karena hukuman gantung maka Ia tidak mencurahkan darah, sehingga tidak cocok dengan type-type dalam Perjanjian Lama tentang Kristus. Bdk. Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”.
Calvin:  “we ought to consider, on the one hand, the dreadful weight of his wrath against sin, and, on the other hand, his infinite goodness towards us. In no other way could our guilt be removed than by the Son of God becoming a curse for us” (= kita harus mempertimbangkan, pada satu sisi, beban yang menakutkan dari murkaNya terhadap dosa, dan di sisi lain, kebaikanNya yang tak terhingga kepada kita. Tidak ada cara lain melalui mana kesalahan kita bisa disingkirkan dari pada dengan cara Anak Allah menjadi kutuk untuk kita) - hal 226.

c)  Karena Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, maka sekarang kita bisa diselamatkan / dibenarkan dengan sangat mudah, yaitu hanya dengan iman / percaya kepada Kristus.
Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
Gal 3:7,9,11,14,24,26 - “(7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. ... (9) Jadi mereka yang hidup dari iman,merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. ... (11) Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’ ... (14) Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. ... (24) Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. ... (26) Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus”.

Dengan percaya kepada Kristus, kita bukan hanya dibenarkan, tetapi kita juga pindah dari keadaan ‘terkutuk’ menjadi keadaan ‘diberkati’ / ‘blessed’ (Gal 3:9,14), dan kita tidak bisa kembali pada keadaan ‘terkutuk’ itu lagi!
George Hutcheson: “he hath undergone that curse that all who flee to him may be freed from it, and that all their conditions may be blessed, and their very crosses turned into blessings” (= Ia telah mengalami kutuk itu supaya semua yang lari kepada Dia bisa dibebaskan dari kutuk itu, dan supaya semua keadaan mereka bisa diberkati, dan salib mereka diubah menjadi berkat) - hal 400.
Bagi saudara yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, sadarilah bahwa saudara adalah orang terkutuk di hadapan Allah. Kalau saudara tidak mau percaya kepada Yesus Kristus, maka dengarlah nubuat Kristus tentang sikap dan kata-kataNya kepada orang terkutuk pada akhir jaman / hari penghakiman: “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Mat 25:41).
Tetapi sebaliknya, kalau saudara mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka pada akhir jaman / hari penghakiman, saudara akan mendengar kata-kata: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34).
Saudara adalah orang berdosa, dan sebetulnya saudaralah yang harus mengalami penyaliban yang mengerikan ini. Tetapi Kristus sudah mengalami penyaliban ini supaya saudara bebas dari hukuman Allah, asal saudara mau percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara. Sudahkah saudara percaya dan menerimaNya?
III) Yesus disalibkan bersama 2 penjahat.
1)  Peristiwa penyaliban Yesus di antara 2 penjahat itu merupakan penggenapan dari Yes 53:12b - “ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak”.
Mark 15:28 - “[Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: ‘Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.’]”.
Mark 15:28 ini terletak dalam tanda kurung tegak, yang menunjukkan bahwa ayat ini diperdebatkan keasliannya. Tetapi Luk 22:37 di bawah ini asli.
Luk 22:37 - “Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi padaKu: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.’”.
2)  Yesus dibedakan dari 2 penjahat itu.
Sekalipun Yesus disalibkan bersama 2 orang penjahat, tetapi Kitab Suci membedakan Yesus dari kedua penjahat itu.
Bdk. Luk 23:32: “Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia”.
KJV: ‘And there were also two other, malefactors, led with him to be put to death’ (= Dan di sana juga ada dua yang lain, penjahat-penjahat, dibawa untuk dibunuh bersama Dia).
Adam Clarke mengatakan bahwa ada versi Kitab Suci yang membuang tanda koma (,) setelah kata-kata ‘two other’ maupun setelah kata ‘malefactors’ dari versi KJV sehingga bunyinya menjadi: ‘And there were also two other malefactors led with him to be put to death’ (= Dan di sana juga ada 2 penjahat lain yang dibawa untuk dibunuh bersama Dia).
Ini menyebabkan ayat ini seolah-olah menunjukkan bahwa Yesus juga adalah kriminil / penjahat. Ini suatu contoh dimana perubahan / penghapusan tanda koma bisa mengubah arti suatu ayat secara total!
Dalam bahasa Yunani untuk kata ‘other’ (= lain) tersebut digunakan kata Yunani HETEROI, dan untuk kata itu Interlinear Greek-English memberi catatan kaki sebagai berikut:“Luke uses e`teroi here with strict accuracy = ‘different.’ Jesus was not himself a criminal. Note the punctuation of A. V.” [= Lukas menggunakan e`teroi (HETEROI) di sini dengan ketepatan yang ketat = ‘berbeda’. Yesus sendiri bukanlah kriminil. Perhatikan pemberian tanda baca dari A. V.].
Catatan: A. V. = Authorized Version = KJV / King James Version.
Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti ‘yang lain’ (= another), yaitu ALLOS dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.
W. E. Vine dalam bukunya yang berjudul ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’ mengatakan sebagai berikut: “ALLOS ... denotes another of the same sort; HETEROS ... denotes another of a different sort (= ALLOS ... menunjuk pada ‘yang lain dari jenis yang sama’; HETEROS ... menunjuk pada ‘yang lain dari jenis yang berbeda’).

Illustrasi: Di sini ada 1 gelas Aqua. Kalau saya menginginkan 1 gelas Aqua lagi, yang sama dengan yang ada di sini, maka saya akan menggunakan kata ALLOS. Tetapi kalau saya menghendaki minuman yang lain, misalnya Coca Cola, maka saya harus menggunakan kata HETEROS, bukan ALLOS.

Yang digunakan dalam ay 32 ini adalah HETEROI (bentuk jamak dari HETEROS). Jadi ini menunjukkan bahwa kedua orang itu adalah ‘yang lain dari jenis yang berbeda’dengan Yesus. Jadi, sekalipun disalibkan bersama-sama, tetapi Yesus dibedakan dari kedua penjahat itu; dengan kata lain, Yesus bukanlah penjahat.
Bandingkan juga dengan terjemahan-terjemahan bahasa Inggris yang lain, yang juga membedakan Yesus dengan kedua penjahat tersebut.
RSV: ‘Two others also, who were criminals, were led away to be put to death with him’ (= Dua orang lain juga, yang adalah kriminil, dibawa untuk dibunuh bersama Dia).
NIV: ‘Two other men, both criminals, were also led out with him to be executed’ (= Dua orang lain, keduanya kriminil, juga dibawa keluar dengan Dia untuk dihukum mati).
NASB: ‘And two others also, who were criminals, were being led away to be put to death with Him’ (= Dan dua orang lain juga, yang adalah kriminil, dibawa untuk dibunuh bersama Dia).

Bandingkan juga dengan kata-kata dari penjahat yang bertobat pada waktu menegur temannya yang terus menghujat Yesus.
Luk 23:40-41 - “(40) Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? (41) Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi ORANG INI TIDAK BERBUAT SESUATU YANG SALAH.’”.

Ketidak-bersalahan Kristus juga dinyatakan oleh Pontius Pilatus (Luk 23:4  Yoh 18:38  19:4,6) dan kepala tentara Romawi (Luk 23:47).
Jadi, Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus bukan penjahat. Lebih dari itu, Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus sama sekali tidak berdosa (Ibr 4:15  2Kor 5:21). Kalau begitu mengapa Ia harus mati? Jelas bahwa Ia mati untuk menebus dosa-dosa kita / memikul hukuman dosa-dosa kita. Kita yang berhutang, Dia yang membayar. Dan Ia membayar seluruh hutang kita!
3)  Yesus dihukum mati / disalibkan, bukan bersama dengan 2 muridNya, tetapi bersama 2 orang penjahat.
Matthew Henry (tentang Yoh 19:18): “in what company he died: Two others with him. ... Had they taken two of his disciples, and crucified them with him, it had been an honour to him; but, if such as they had been partakers with him in suffering, it would have looked as if they had been undertakers with him in satisfaction. Therefore it was ordered that his fellow-sufferers should be the worst of sinners, that he might bear our reproach, and that the merit might appear to be his only” (= dalam kumpulan apa Ia mati: Dua lainnya dengan Dia. ... Seandainya mereka mengambil dua dari murid-muridNya, dan menyalibkan mereka dengan Dia, itu merupakan suatu kehormatan bagiNya; tetapi, seandainya orang-orang seperti itu ambil bagian dengan Dia dalam penderitaanNya, itu akan dilihat seakan-akan mereka mengerjakan / mengusahakan dengan Dia dalam penebusan. Karena itu diatur supaya rekan-rekan penderitaanNya harus adalah orang-orang berdosa yang terburuk, supaya Ia bisa memikul cela / kesalahan kita, dan supaya bisa terlihat bahwa semua jasa hanya merupakan milikNya saja).

4)  Yesus disalibkan di tengah-tengah kedua penjahat / perampok itu.
Ada penafsir yang beranggapan bahwa sebetulnya salib yang di tengah itu adalah salib untuk Barabas, tetapi Yesus menggantikan dia, dan dia dibebaskan.
Berkenaan dengan posisi di tengah, yang seolah-olah menunjukkan bahwa Yesus adalah yang paling jahat dari semua, perhatikan komentar-komentar di bawah ini.
Calvin: “Meanwhile, we ought to consider the purpose of God, by which Christ was appointed to be crucified, as if he had been the basest of men. The Jews, indeed, rage against him with blinded fury; but as God had appointed him to be a sacrifice to atone for the sins of the world, he permitted him to be placed even below a robber and murderer. That the Son of God was reduced so low none can properly remember without the deepest horror, and displeasure with themselves, and detestation of their own crimes. But hence also arises no ordinary ground of confidence; for Christ was sunk into the depths of ignominy, that he might obtain for us, by his humiliation, an ascent to the heavenly glory: he was reckoned worse than a robber, that he might admit us to the society of the angels of God. If this advantage be justly estimated, it will be more than sufficient to remove the offence of the cross” (= Sementara itu, kita harus memikirkan tujuan Allah, dengan mana Kristus ditetapkan untuk disalibkan, seakan-akan Ia adalah orang yang paling jahat. Memang orang-orang Yahudi marah kepadaNya dengan suatu kemarahan yang buta; tetapi karena Allah telah menetapkan Dia untuk menjadi korban untuk menebus dosa-dosa dunia, Ia mengijinkan Dia untuk ditempatkan bahkan di bawah seorang perampok dan pembunuh. Bahwa Anak Allah direndahkan begitu rendah tidak ada seorangpun yang bisa mengingat dengan benar tanpa kengerian yang terdalam, dan ketidak-senangan dengan diri mereka sendiri, dan kebencian / kejijikan terhadap kejahatan-kejahatan mereka sendiri. Tetapi dari sana juga muncul suatu dasar yang luar biasa bagi keyakinan; karena Kristus ditenggelamkan ke dalam suatu kedalaman yang memalukan, supaya Ia bisa mendapatkan bagi kita, oleh perendahanNya, suatu peninggian / pengangkatan kepada kemuliaan surgawi: Ia dianggap lebih buruk dari seorang perampok, supaya Ia bisa menerima kita pada perhimpunan malaikat-malaikat Allah. Jika manfaat ini dinilai dengan benar, itu lebih dari cukup untuk menyingkirkan sandungan dari salib) - hal 282.
5)  Sebuah komentar tentang 3 buah salib di Golgota tersebut.
Pulpit Commentary: “I. ONE CROSS IS THE SYMBOL OF DIVINE LOVE AND OF HUMAN SALVATION. ... II. A SECOND CROSS IS THE SYMBOL OF IMPENITENCE AND REJECTION OF DIVINE MERCY. ... How possible it is to be close to Christ, in body, in communication, in privilege, and yet, because destitute of faith and love, to be without any benefit from such proximity! ... III. A THIRD CROSS IS THE SYMBOL OF PENITENCE AND OF PARDON. ... It is possible for the vilest to repent. ... Even in the eleventh hour salvation is not to be despaired of” 
       =
I.                   Satu salib adalah simbol dari kasih ilahi dan dari keselamatan manusia.
II.                Salib yang kedua adalah simbol dari sikap tidak bertobat dan penolakan terhadap belas kasihan ilahi. ... Sangat memungkinkan untuk dekat dengan Kristus, dalam tubuh, dalam komunikasi, dalam hak, tetapi karena tidak adanya iman dan kasih, tidak ada keuntungan / manfaat yang didapatkan dari kedekatan tersebut!
III.             Salib yang ketiga adalah simbol dari pertobatan dan dari pengampunan. ... Adalah mungkin bagi orang yang paling busuk / kotor / hina / jahat / bejat untuk bertobat. ... Bahkan pada jam yang kesebelas / pk. 5 sore (pada saat sudah dekat dengan kematian) keselamatan masih bisa diharapkan
Catatan: tentang istilah ‘jam ke 11’, bandingkan dengan Mat 20:1-16, khususnya ay 11nya.
 Penutup / kesimpulan.
 Kristus sudah mengalami kematian yang begitu menyakitkan, terkutuk, rendah / hina dan memalukan, untuk menyediakan satu-satunya jalan keselamatan bagi saudara. Kalau saudara percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara bukan hanya akan diampuni dan diselamatkan / masuk surga, tetapi saudara juga akan menjadi orang-orang yang diberkati, dan saudara akan ditinggikan ke dalam kumpulan malaikat di sorga.

 Maukah saudara percaya kepadaNya? Kalau saudara sudah percaya kepadaNya, maukah saudara memberitakan Injil supaya lebih banyak orang bisa percaya kepada Kristus?